Rabu, 29 Agustus 2012

postheadericon Rossi Beberkan Kelemahan Motor Ducati

Brno - Pemegang tujuh gelar juara dunia MotoGP, Valentino Rossi, mengatakan motor Ducati yang kini dikendarainya memiliki kelainan dan kesulitan sendiri. Sangat berbeda dengan motor Honda atau Yamaha. Untuk itulah ia mendoakan Andrea Dovizioso yang kelak akan mengganti Rossi di Ducati, bisa sukses.

"Saya doakan Dovi semoga berhasil, karena mengendarai motor Ducati dan memacunya hingga limit itu rasanya sangat berbeda," kata Rossi seusai menyelesaikan balapan di seri MotoGP Ceko di Sirkuit Brno, 24 Agustus 2012, sebagaimana dikutip Visor Down, Rabu, 29 Agustus 2012.

Mulai musim depan, Rossi akan kembali ke tim yang telah bersamanya selama tujuh tahun, Yamaha. Ia berharap bisa mengulang kejayaan. Bersama Yamaha, The Doctor pernah meraih empat kali gelar Juara Dunia MotoGP.

Hengkangnya Rossi dilandasi kekecewaannya terhadap Ducati yang tak kunjung kompetitif. Prestasi pebalap yang selalu mengenakan nomor 46 itu begitu buruk bersama Ducati, ia hanya dua kali naik podium tanpa sekalipun meraih kemenangan.

Di Balapan Sirkuit Brno Jumat lalu, motor Ducati yang dipacu Rossi terlihat beberapa kali mengeluarkan asap tebal dari knalpotnya, setelah melewati trek panjang. Pebalap berusia 33 tahun itu tak dapat mempertahankan posisi lima yang susah payah diraihnya, dan harus rela finis di posisi tujuh.

Sebelumnya, kabar keinginan Rossi hengkang membuat Ducati segera berbenah. Mereka menggandeng pabrikan mobil asal Jerman, Audi, untuk bekerjasama memperbaiki motor Ducati Desmosedici. Akan tetapi, Rossi tak mengubah keputusannya untuk pindah ke Yamaha.

Presiden Ducati, Gabriele del Torchio, mengatakan pihaknya akan segera merombak Departemen Balap, dan mengoptimalkan teknologi pada motornya, Desmosedici. "Kami akan mencoba menerapkan teknologi kelistrikan mobil Audi," katanya.

Ketika ditanya soal langkah Ducati berbenah diri, Rossi hanya tersenyum. "Saya pikir nantinya akan ada banyak perubahan pada Ducati. Saya hanya berharap mereka berhasil menyelesaikan masalah-masalah pada motor mereka, sehingga bisa lebih kompetitif," katanya.

Terkait Dovisioso, pembalap Ducati mulai musim depan, Rossi tak bisa memprediksi apakah akan bisa sukses atau justru akan terpuruk. "Sulit dikatakan sekarang."
Sent from BlackBerry® on 3

Baca Selengkapnya

postheadericon Suzuki Ingin Comeback ke MotoGP di 2014

Absen dari kompetisi di musim ini, pabrikan Suzuki memberi isyarat kuat untuk kembali tampil di kancah MotoGP. Rencana comeback tersebut dicanangkan untuk tahun 2014.

Suzuki, yang mulai terlibat di Grand Prix kelas 500cc di tahun 1974, pada akhir 2011 memutuskan tidak mengikuti balapan tahun ini.

Pernah menghasilkan lima pebalap juara dunia, mereka terus menggodok target comeback di tahun 2014. Mereka juga mengesampingkan potensi turun sesekali sebagai wild card, karena lebih memilih langsung menyiapkan motor-motor yang kompetitif.

"Kembali ke 2014 adalah tujuan kami. Kami bekerja keras untuk menuju ke sana," tukas pimpinan proyek MotoGP dari Suzuki, Satoru Terada, kepada Motorsprint yang dilansir Autosport.

"Saya harus katakan, kami belum bisa memberi konfirmasi yang pasti, karena keputusan-keputusan final ada di top management, karena dari sanalah anggaran kami.

"Keputusan-keputusan ini dibuat di jajaran puncak: orang-orang bekerja di departemen-departemen balapan tak bisa berbuat apa-apa. Meski demikian, setelah satu tahun refleksi, pihak top management pun kini memahami bahwa kami bisa memulai lagi," sambungnya.

Terada menambahkan, saat ini timnya terus menyiapkan konsep-konsep untuk comeback, dan terutama menghasilkan motor yang bukan "coba-coba", dan oleh karena itu mereka tidak tertarik untuk mengambil wildcard di 2013.

"Memang belum," kata dia saat ditanya tentang tingkat kepuasan dengan prototipe motor yang sedang mereka produksi. "Tapi ekspektasi kami memang tahun ini."

"Kami baru mulai, dan kami akan balapan di 2014. Jadi, masih banyak waktu."

Kelima pebalap yang pernah menjadi juara bersama Suzuki di kelas primer adalah Barry Sheene (1976, 1977), Marco Lucchinelli (1981), Franco Uncini (1982), Kevin Schwantz (1993), dan Kenny Roberts Jr. (2000).
Sent from BlackBerry® on 3

Baca Selengkapnya
Sabtu, 11 Agustus 2012

postheadericon Tak Berjodoh dengan Ducati, Rossi Kembali ke Pelukan Yamaha



Roma - Valentino Rossi gagal memenuhi ekspektasi besar yang dibebankan kepadanya selama membela Ducati. Sebuah catatan tak mengesankan yang "menodai" prestasi gemilang yang dia dapat di masa sebelumnya.

Saat kepindahan Rossi ke Ducati diumumkan pada Agustus 2010, banyak pihak yang memprediksi Rossi akan kembali ke tangga juara dunia. Powermotor Ducati yang besar dan skill membalap Rossi yang kelas wahid dianggap sebagai kombinasi yang sempurna. Belum lagi soal kesamaan asal negara Rossi dan Ducati, Italia, yang juga ikut mendorong kepindahannya ini.

Publik masih mencoba maklum saat Rossi mengalami kesulitan di masa-masa awal bersama Ducati. Selain karena masalah adaptasi dengan motor baru, The Doctor saat itu juga belum dalam kondisi prima pasca operasi.

Namun, setelah ditunggu sekian lama, Rossi tak kunjung berprestasi. Dia cuma sekali naik podium ketiga di musim 2011, yakni di Le Mans. Inilah kali pertama dalam kariernya Rossi tidak sekali pun menang selama semusim.

Akhirnya, di musim itu dia cuma menempati posisi ketujuh di klasemen akhir pebalap dengan 139 poin, terpaut 211 poin dari Casey Stoner yang jadi kampiun. Sebagai informasi, Rossi tak pernah menempati posisi seburuk itu di klasemen akhir sejak tahun 1997. Dalam kariernya di balap motor grand prix, posisi terjelek yang dia tempati adalah posisi kesembilan, itu pun dia raih di musim debut kelas 125cc pada tahun 1996. Selebihnya, dia selalu masuk tiga besar hingga tahun 2010.

Catatan buruk Rossi ternyata masih berlanjut di musim keduanya. Setelah sepuluh seri berlalu, rider 33 tahun ini baru sekali naik podium, yakni saat menempati posisi kedua di Le Mans. Sisanya, dia lebih sering finis di luar lima besar.

Rossi saat ini menduduki posisi kedelapan di klasemen pebalap dengan raihan 82 poin, tertinggal 123 poin dari Jorge Lorenzo yang ada di puncak. Dia bahkan ada di bawah rekan setimnya, Nicky Hayden, yang punya dua poin lebih banyak.

Apa yang membuat performa Rossi begitu merosot setelah pindah ke Ducati? Banyak pendapat soal ini, mulai dari lawan yang makin kompetitif, usia yang tak muda lagi, sampai perbedaan karakter motor. Namun, yang selama ini paling banyak dikeluhkan oleh Rossi adalah motor Desmosedici yang tak kunjung sesuai dengan keinginannya.

Rossi memang dikenal sebagai pebalap yang bukan cuma menunggangi motor, namun juga berperan dalam pengembangannya. Oleh karena itu, dia akan "rewel" dan banyak memberi masukan ke kru teknisnya.

Sebagai contoh adalah di tengah musim 2011. Karena tak puas dengan performa Desmosedici GP11, Rossi akhirnya diberi motor yang lebih gres dalam bentuk Desmosedici GP11.1. Belum juga mendapatkan hasil bagus, Rossi memakai sasis baru yang terbuat dari aluminium. Hasilnya? Tetap tak menggembirakan.

Kenangan-kenangan tak menyenangkan di atas akan segera menjadi masa lalu Rossi. Kini, juara dunia kelas MotoGP ini harus bersiap mengucapkan selamat tinggal kepada Ducati. Dia sudah dipastikan akan kembali lagi ke Yamaha mulai musim depan.

Yamaha memang tempat dimana Rossi mencapai puncak kejayaan. Pada periode 2004-2010, pebalap yang identik dengan nomor motor 46 ini empat kali jadi juara dunia, yakni di tahun 2004, 2005, 2008, dan 2009. Dari 117 balapan bersama tim Garpu Tala, dia naik podium 85 kali dan menang 46 kali. Sebuah catatan yang fantastis bukan?

Baca Selengkapnya
Rabu, 08 Agustus 2012

postheadericon Rossi Diikat Yamaha Dua Tahun?

MILAN – Sportmediaset melaporkan bahwa Valentino Rossi telah menandatangani kontrak selama dua tahun dengan Yamaha. Pengumuman resmi soal hal ini baru akan dilakukan pada Rabu pekan depan.
 
Alasan di balik keputusan Yamaha ini adalah pabrikan asal Kota Iwata, Jepang itu membutuhkan sosok Rossi untuk menarik minat sponsor. Meski kariernya tengah menukik tajam, tapi untuk urusan yang satu ini The Doctor tidak tertandingi.
 
Bila kabar yang dilansir Sportsmediaset ini benar, maka apa yang diucapkan CEO Dorna Carmelo Ezpeleta beberapa waktu lalu terbukti adanya. Seusai perhelatan GP Eropa pada ajang Formula 1, Juni lalu, Ezpeleta menegaskan Rossi akan mendapatkan motor yang kompetitif pada musim 2013 mendatang dan siap kembali ke jalur juara dunia.
 
Media lantas membuat spekulasi bahwa juara dunia tujuh kali itu akan bergabung dengan Repsol Honda untuk membentuk tim impian bersama wonderkid Marc Marquez. Namun, kabar ini ternyata hanya isu yang ditiupkan media belaka.
 
Bagi Rossi sendiri, bergabung di Yamaha dengan menggantikan Ben Spies bisa menjadi jalan keluar dari mimpi buruknya di Ducati. 'Perkawinan' Rossi dengan Ducati terbukti gagal dan tampaknya takkan dilanjutkan lagi.
 
Meski di Yamaha, gajinya akan dipotong dan posisinya hanya jadi pembalap kedua di bawah Jorge Lorenzo, tapi pembalap berusia 33 tahun ini punya peluang lebih besar mengakhiri karier gemilangnya di kancah MotoGP dengan lebih terhormat.
Sent from BlackBerry® on 3

Baca Selengkapnya

Jumlah Pengunjung